Ternyata artikel saya yang berjudul ALASAN SAYA MENGGUNAKAN KNALPOT RACING!! menuai pro dan kontra… banyak yang berkomentar setuju dan pengen motornya pasang knalpot racing juga, dan ada juga yang berkomentar miring dan pedas. Dengan artikel ini saya menjawab kritikan atau komentar pedas yang saya terima….

Komentar pertama dari GCM, yang sudah saya balas via kolom komentar di artikel sebelumya KLIK DISINI dan yang kedua dari Cicakmerah.. yang berbunyi ::

apa gunanya ada lampu n klakson? pengendara lain juga masih punya kaca spion kan?
kalo alasan klaksonnya kecil, tinggal ganti yg dobel, beres.. toh klakson ga dipake terus2an, jadi ga berisik terus2an layaknya knalpot racing..
apapun alasanya, klanpot racing hanya untuk sirkuit!
dengan BERISIKnya knalpot anda, orang lain jadi fokus ke motor anda.. eksistensi motor lainnya dicuekin.. apa anda se-EGOIS itu?
haruskan semua pengendara motor pakai knalpot racing aga eksistensinya diakui?
lantas setelah semua org pakai knalpot racing, semuanya berisik.. apa yg anda lakukan?

khusus komentar dari cicak merah ini saya jawab disini ::

@ Cicakmerah :: maaf sebelumnya, itu kan pendapat saya, sah-sah saja jika saya berpendapat seperti itu, karena ini negara bebas berpendapat, y kan? mengenai lampu dan klakson yang dan juga spion, tidak semua pengendara itu tahu cara berkendara yang baik, mereka belum tahu apa gunanya klakson saat mendahului atau lampu yang hidup disiang hari atau DRL, saya saja saat menghidupkan lampu dan menggunakan klakson saat mendahului pernah kena marah “jalan alah den agiah, ngapo juo nglakson-nglakson!!! jalan ko punyo apak ang!! ” yang artinya “Jalan sudah saya kasih, ngapa masih nglakson-nglakson!!! jalan ini punya bapak mu!!” saya malah dapat cercaan seperti itu.. karena saya tinggal didaerah pinggiran kota dan tepatnya perlintasan jalan lintas provinsi yang setiap hari dilalui mobil dengan tonase berat, jika anda ada diposisi saya dan bertempat tinggal seperti saya, saya yakin anda akan melakukan hal yang sama…

Pembagian knalpot itu ada 3 macam, 1. standar 2. street performance 3. racing.. dalam kasus ini saya menggunakan knalpot street performance yang punya suara sedikit lebih keras dari standar tetapi tidak sekeras knalpot racing.., karena sesuai penamaannya knalpot ini untuk penggunaan harian dengan performa diatas knalpot standar. Dan knalpot racing memang diperuntukkan untuk balap disirkuit karena suaranya yang sangat keras, knalpot ini hanya boleh digunakan motor balap seperti di indoprix, motoprix, OMR, atau kejurnas dan sejenisnya.. boleh anda bandingkan kerasnya suara knalpot saya Nob1 3 bold yang didesain untuk street performance harian dengan kanlpot racing untuk sirkuit?? mana yang lebih keras?? saya yakin jawabannya adalah knalpot racing.

Jika anda menilai saya egois dengan hanya karena saya menggunakan knalpot racing harian, bagaimana anda menilai orang yang menggunakan knalpot standar tapi dijalan seruntulan kayak orang kesurupan?? apa mereka dibilang tidak egois karena menggunakan knalpot standar?? walaupun mereka berkendara seruntulan??
Sepertinya imej yang terbagun dibenak anda adalah orang yang menggunakan knalpot racing itu seruntulan, egois, mau menang sendiri.. ingat bro ini sekali lagi terletak pada karekter orang yang berbeda, tidak semua pengendara pengguna knalpot racing itu seruntulan, egois, dan mau menang sendiri..mungkin selama ini anda menemui pengendara yang mengguanakan knalpot racing seperti itu adanya, benar kan?? mohon kiranya anda berpikiran terbuka lagi dalam menilai pengendara dengan knalpot racing, bahwa tidak semua pengguna knalpot racing itu egois….

Jika semua orang menggunakan knalpot racing yang akan saya lakukan membiarkan saja hal itu, karena itu hak mereka dan karena saya melakukan hal tersebut. Disini kembali lagi ke peraturan Undang-Undang Lalu Lintas nomor 22 tahun 2009 tentang kebisingan knalpot… disini tidak diterangkan berapa desibel kebisingan suara yang diperbolehkan, sehingga terdapat kerancuan tentang knalpot. Sensitifitas pendengaran orang berbeda-beda, kata si A knalpot ini berisik, tapi kata si B tidak berisik…

Di sini lah letak ketidak jelasan Undang-Undang tersebut, pemerintah seharusnya menggodok ulang Undang-Undang tersebut, yang bisa bersumber pada PP Mentri Lingkungan Hidup no. 7 tahun 2009 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru yang berbunyi “untuk tipe 80 cc ke bawah maksimal 85 desibel (db). Lalu, tipe 80-175cc maksimal 90 db dan 175cc ke atas maksimal 90 db. Itu untuk tahap satu. Pada tahap dua, masing-masing maksimal, tipe 80 cc ke bawah sebesar 77 db, lalu 80-175cc sebesar 80 db, dan 175cc ke atas sebesar 83 db”.

Kita tahu bahwa aturan soal kebisingan ada di Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 48 ayat (3) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal kendaraan bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir;e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat kendaraan. (sumber :: edorusyanto traffic).

Didalam Undang-undang tersebut tidak dijelaskan soal ambang batas maksimal kebisingan suara knalpot!! Seharusnya ada bunyi atau penjelasan seperti ini “Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru untuk tipe 80 cc ke bawah maksimal 85 desibel (db). Lalu, tipe 80-175cc maksimal 90 db dan 175cc ke atas maksimal 100 db” Ini penting mengingat pemerintah adalah regulator, agar tidak terjadi kesimpang siuran,kesalah pahaman, dan kerancuan tentang kebisingan knalpot.

Dan pihak kepolisian lalu lintas sebagai pelaksana aturan dan perundangan dilapangan harus memiliki alat pengukur kebisingan suara atau desibelmeter yang biasa digunakan pada kontes mobil Sound Pressure Level (SPL), sehingga bisa dengan bijaksana memutuskan melanggar atau tidak aturan dan perundangan lalu lintas tersebut. Jangan main pukul rata atau antem kromo yang bukan knalpot standar berisik dengan hanya mengandalkan insting pendengaran. Lalu bagaimana dengan knalpot standar yang sudah dibobok/dibikin lebih loss (lubang knalpot lebih besar dari standar)?? yang bisa saja suaranya bersanding lurus dengan suara knalpot racing harian, apa tidak melanggar? hanya karena masih menggunakan knalpot standar?

Mudah-mudahan Undang-Undang lalu lintas itu diperbaharui, agar tidak terjadi kesalah artian dan kebingungan yang berkelanjutan.

Dengan begitu produsen knalpot akan membuat produknya sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut, agar produk mereka legal dan sah digunakan di jalan raya untuk penggunaan harian. Ingatlah banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari usaha knalpot ini.

Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.. Wassalam, dan semoga bermanfaat..

About these ads